Tag Archives: FC

PRATINJAU Juventus vs FC Barcelona: Ujian Nyata Il Mio Calcio

PRATINJAU Juventus vs FC Barcelona: Ujian Nyata Il Mio Calcio

JawaPos.com – Andrea Pirlo adalah salah satu "siswa" terbaik Coverciano. Sebulan lalu, Pirlo menyelesaikan lisensi kepelatihan Pro UEFA sebagai lulusan terbaik kedua setelah Thiago Motta.

Pirlo lulus dengan skor 107 dari 110 poin. Terpaut satu poin dari Motta. Semua itu didapatnya berkat skripsinya yang berjudul Il Mio Calcio aka My Football.

Di Il Mio Calcio, Pirlo menginginkan sepak bola modern yang semakin cair dan mengandalkan penguasaan bola serta lini pertahanan yang tinggi. Dalam konteks permainan Juve, filosofi Pirlo adalah ingin La Vecchia Signora asuhannya tidak lagi bergantung pada Cristiano Ronaldo.

Untuk itu, Pirlo memberikan pemahaman kepada Ronaldo bahwa pemilik gelar CR7 tidak akan selalu dimainkan musim ini. Tanpa Ronaldo yang hingga tadi malam masih dinyatakan tak bisa tampil akibat terpapar Covid-19, Juve mengandalkan Alvaro Morata dan Dejan Kulusevski sebagai penghasil gol.

Sejauh ini, Morata sudah mencetak 3 gol dan Kulusevski mencetak 1 gol dalam tiga pertandingan terakhir Juve tanpa Ronaldo. Salah satunya saat Morata membuat catatan penjepit dalam kemenangan 2-0 atas Dynamo Kyiv (21/10). Klub asal Ukraina yang notabene diasuh oleh Mircea Lucescu, sosok yang melakukan debut Pirlo di Serie A 25 tahun lalu.

Meski mampu mengungguli pelatih senior sekaliber Lucescu, Il Mio Calcio dari Pirlo dinilai tidak sepenuhnya sukses. Pasalnya, Dynamo bukanlah tim dengan skuad level atas. Ujian sesungguhnya Il Mio Calcio akan datang saat Juve menghadapi kekuatan besar Eropa seperti FC Barcelona di Allianz Stadium dini hari nanti. (Siaran langsung SCTV / Champions TV 2 pukul 03.00 WIB).

"Apapun yang terjadi (Ronaldo bisa turun atau tidak, Red), kami sudah mengerti apa yang harus kami lakukan. Juve harus menunjukkan permainan terbaik mereka," ujar Pirlo dalam jumpa pers di JTC Continassa tadi malam kepada Tutto Juve.

Menurut pria berusia 41 tahun itu, melawan Barca dan head-to-head Dengan penyerang seperti Lionel Messi merupakan pertandingan penting karena filosofinya yang masih setua jagung. & # 39; & # 39; Ini bukan pertandingan penentuan turnamen. Tapi, ini adalah pertandingan yang menentukan seberapa besar kami mencetak gol, ”lanjut Pirlo.

Dari Barca, handicap yang dibawa skuat Ronald Koeman sama krusialnya dengan Juve minus Ronaldo. Yakni, Real Madrid hanya dipermalukan 1-3 pada El Clasico di La Liga (24/10). Ditambah statistik Messi yang selalu frustasi setiap berlaga di kandang Juve di ajang Liga Champions.

Di kaki kedua Perempat final 2016-2017 dan fase grup pada musim berikutnya, La Pulga gagal mencetak gol. Total, dalam tujuh laga tandang Barca di Eropa dalam dua musim terakhir, praktis Messi baru bisa dua kali mencatatkan namanya di papan skor.

Kalau Manchester United Disebut Penalti FC, Memangnya Kenapa?

Kalau Manchester United Disebut Penalti FC, Memangnya Kenapa?

JawaPos.com – Penalti FC. Begitu ramai netizen di media sosial menyoroti penalti yang didapatkan Manchester United ketika mengalahkan Copenhagen 1-0. Apalagi, gol tunggal Bruno Fernandes itu jadi penentu lolos ke semifinal Europa League.

Pertanyaannya, apakah layak musim ini Manchester United disebut sebagai penalti FC? kalau melihat fakta yang ada, mereka layak. Masalahnya, kenapa mereka bisa mendapatkan begitu banyak penalti pada musim ini?

Ya, musim ini, ada 21 kali Manchester United mendapatkan penalti di semua ajang yang mereka ikuti. Paling banyak di antara seluruh klub di liga elite Eropa. Selain itu, mereka mencatat sekitar 15 persen gol penalti dari total 110 gol musim ini.

Di Premier League, Manchester United memimpin dalam jumlah perolehan penalti dengan 14 kali dan 10 di antaranya menghasilkan gol. Tetangganya yang berisik, Manchester City, berada di posisi kedua dengan 11 kali penalti.

Bruno Fernandes menjadi sang eksekutor utama. Sejak bergabung ke Manchester United pada Januari lalu, dia telah mencetak 11 gol. Nah, tujuh di antaranya dicetak bintang asal Portugal tersebut dari titik penalti.

Apabila situasi itu ini terjadi sebelum era VAR, bisa jadi kontroversinya akan lebih sengit terjadi. Perdebatan akan sah atau tidaknya penalti-penalti yang didapatkan tim asuhan Ole Gunnar Solskjaer itu bakal sangat ramai.

Kenyataannya, sekarang ada VAR. Insiden yang terjadi di lapangan sudah melalui proses cek. Sehingga bisa dibilang, penalti itu layak mereka dapatkan. Ini kasus yang berbeda dengan penalti di Liga 2 Indonesia, Bung.

Jauh sebelum sebutan Penalti FC ini diberikan ke Manchester City. Jauh sebelum media sosial begitu riuh. Saya jadi ingat akan tim di Liga Indonesia yang disebut sebagai penalti FC. Raja penalti, Raja kandang. Klub itu adalah: Deltras Sidoarjo.

Pada 2010, saya sudah lupa jumlah pastinya. Namun, bagi para penonton dan peliput pertandingan Deltras di Gelora Delta, Sidoarjo, biasanya paham. Deltras tidak bisa dikalahkan di kandang. Dan, pada akhirnya akan ada penalti yang dihadiahkan kepada Deltras.

Fakta yang saya tulis di atas bukan membandingkan. Hanya menjelaskan soal ada klub di Indonesia yang pernah dapat julukan serupa, tapi dengan cara yang berbeda. Tentu berbeda dengan kualitas wasit dan teknologi VAR.

Terlepas dari jumlah, kenapa kok Manchester United begitu sering mendapatkan penalti pada musim ini? Tidak mudah menjelaskan fenomena ini. Namun, gaya bermain dan pergerakan dari para pemain depan Manchester United bisa jadi menentukan.

Manchester United memilih Marcus Rashford dan Anthony Martial yang mengandalkan kecepatan. Jadi, tidak serta-merta dituding mereka doyan diving. Gaya mereka tentu saja berbeda dengan Filippo Inzaghi di masa silam, yang bikin geregetan lawan.

Pelatih Manchester United Ole Gunnar Solskjaer dalam wawancaranya mengatakan bahwa tipe pemain yang dimilikinya memang membuat rentan dilanggar. ”Mereka memiliki kaki yang cepat dan skill yang bagus,” katanya sebagaimana dikutip Independent.

Bahkan, Solskjaer mengatakan, dari sebagian besar penalti yang mereka dapatkan, tidak perlu diperdebatkan lagi. Sebab, memang begitu kenyataannya. Taktik yang diterapkan mantan striker Manchester United itu juga bisa menjadi penyebab banyaknya penalti yang didapatkan.

Ulasan dari koresponden Independent, Mark Critchley, menghadirkan fakta yang menarik soal bagaimana gaya bermain Manchester United sejak era Solskjaer dan hadiah penalti. Perbandingannya dengan era Jose Mourinho.

Pada musim lalu, 15 kali Manchester United mendapatkan penalti. Pada awal musim ditangani Jose Mourinho, klub berjuluk Setan Merah itu mendapatkan enam kali penalti. Begitu di tangan Solskjaer, bertambah sembilan kali penalti.

Jadi, menurut saya, kalau ada yang menyebut Manchester United sebagai penalti FC pada musim ini, tidak keliru. Kenyataannya, angka penalti yang mereka dapatkan memang paling tinggi. Lagipula penalti bagian dari permainan, apa salahnya?