Category Archives: Penalti FC

Kalau Manchester United Disebut Penalti FC, Memangnya Kenapa?

Kalau Manchester United Disebut Penalti FC, Memangnya Kenapa?

JawaPos.com – Penalti FC. Begitu ramai netizen di media sosial menyoroti penalti yang didapatkan Manchester United ketika mengalahkan Copenhagen 1-0. Apalagi, gol tunggal Bruno Fernandes itu jadi penentu lolos ke semifinal Europa League.

Pertanyaannya, apakah layak musim ini Manchester United disebut sebagai penalti FC? kalau melihat fakta yang ada, mereka layak. Masalahnya, kenapa mereka bisa mendapatkan begitu banyak penalti pada musim ini?

Ya, musim ini, ada 21 kali Manchester United mendapatkan penalti di semua ajang yang mereka ikuti. Paling banyak di antara seluruh klub di liga elite Eropa. Selain itu, mereka mencatat sekitar 15 persen gol penalti dari total 110 gol musim ini.

Di Premier League, Manchester United memimpin dalam jumlah perolehan penalti dengan 14 kali dan 10 di antaranya menghasilkan gol. Tetangganya yang berisik, Manchester City, berada di posisi kedua dengan 11 kali penalti.

Bruno Fernandes menjadi sang eksekutor utama. Sejak bergabung ke Manchester United pada Januari lalu, dia telah mencetak 11 gol. Nah, tujuh di antaranya dicetak bintang asal Portugal tersebut dari titik penalti.

Apabila situasi itu ini terjadi sebelum era VAR, bisa jadi kontroversinya akan lebih sengit terjadi. Perdebatan akan sah atau tidaknya penalti-penalti yang didapatkan tim asuhan Ole Gunnar Solskjaer itu bakal sangat ramai.

Kenyataannya, sekarang ada VAR. Insiden yang terjadi di lapangan sudah melalui proses cek. Sehingga bisa dibilang, penalti itu layak mereka dapatkan. Ini kasus yang berbeda dengan penalti di Liga 2 Indonesia, Bung.

Jauh sebelum sebutan Penalti FC ini diberikan ke Manchester City. Jauh sebelum media sosial begitu riuh. Saya jadi ingat akan tim di Liga Indonesia yang disebut sebagai penalti FC. Raja penalti, Raja kandang. Klub itu adalah: Deltras Sidoarjo.

Pada 2010, saya sudah lupa jumlah pastinya. Namun, bagi para penonton dan peliput pertandingan Deltras di Gelora Delta, Sidoarjo, biasanya paham. Deltras tidak bisa dikalahkan di kandang. Dan, pada akhirnya akan ada penalti yang dihadiahkan kepada Deltras.

Fakta yang saya tulis di atas bukan membandingkan. Hanya menjelaskan soal ada klub di Indonesia yang pernah dapat julukan serupa, tapi dengan cara yang berbeda. Tentu berbeda dengan kualitas wasit dan teknologi VAR.

Terlepas dari jumlah, kenapa kok Manchester United begitu sering mendapatkan penalti pada musim ini? Tidak mudah menjelaskan fenomena ini. Namun, gaya bermain dan pergerakan dari para pemain depan Manchester United bisa jadi menentukan.

Manchester United memilih Marcus Rashford dan Anthony Martial yang mengandalkan kecepatan. Jadi, tidak serta-merta dituding mereka doyan diving. Gaya mereka tentu saja berbeda dengan Filippo Inzaghi di masa silam, yang bikin geregetan lawan.

Pelatih Manchester United Ole Gunnar Solskjaer dalam wawancaranya mengatakan bahwa tipe pemain yang dimilikinya memang membuat rentan dilanggar. ”Mereka memiliki kaki yang cepat dan skill yang bagus,” katanya sebagaimana dikutip Independent.

Bahkan, Solskjaer mengatakan, dari sebagian besar penalti yang mereka dapatkan, tidak perlu diperdebatkan lagi. Sebab, memang begitu kenyataannya. Taktik yang diterapkan mantan striker Manchester United itu juga bisa menjadi penyebab banyaknya penalti yang didapatkan.

Ulasan dari koresponden Independent, Mark Critchley, menghadirkan fakta yang menarik soal bagaimana gaya bermain Manchester United sejak era Solskjaer dan hadiah penalti. Perbandingannya dengan era Jose Mourinho.

Pada musim lalu, 15 kali Manchester United mendapatkan penalti. Pada awal musim ditangani Jose Mourinho, klub berjuluk Setan Merah itu mendapatkan enam kali penalti. Begitu di tangan Solskjaer, bertambah sembilan kali penalti.

Jadi, menurut saya, kalau ada yang menyebut Manchester United sebagai penalti FC pada musim ini, tidak keliru. Kenyataannya, angka penalti yang mereka dapatkan memang paling tinggi. Lagipula penalti bagian dari permainan, apa salahnya?